Rhesus Inkompatibilitas

Sumber
——

link : http://orinkeren.multiply.com/journal/item/52
oleh : Orin, 4 Feb 2005
judul : TAK PERLU CEMASKAN RHESUS INKOMTABILITA DAN KEGUGURAN BERULANG

Mengandung, melahirkan dan membesarkan anak merupakan salah satu kebahagiaan yang besar bagi wanita. Banyak pasangan yang mengharapkan keturunan, kalau bisa lebih dari satu, karena Rasulullah SAW membanggakan banyaknya jumlah ummatnya.
Namun tak jarang beberapa wanita mengalami keguguran berulang atau bayi lahir mati, sehingga sang buah hati urung ditimang. Penyebab keguguran berulang dan bayi lahir mati sangat banyak, salah satunya ialah ketidak cocokan rhesus (rhesus inkontabilita).

Di dunia medis dikenal banyak sekali cara penggolongan darah. Namun yang biasanya dipertimbangkan hanya dua cara penggolongan, yaitu sistem ABO dan faktor rhesus. Biasanya masyarakat Indonesia cukup akrab dengan sistem ABO. Yaitu penggolongan darah yang terdiri dari golongan darah A, B, AB dan O. Tapi mengenai faktor rhesus, sepertinya sedikit sekali masyarakat kita yang mengetahuinya, walaupun rhesus sangat penting dalam masalah darah.

Rhesus, merupakan penggolongan atas ada atau tidak adanya antigen-D. Antigen-D pertama dijumpai pada sejenis kera yang disebut Rhesus pada tahun 1937, dari kera inilah sebutan rhesus diambil. Orang yang dalam darahnya mempunyai antigen-D disebut rhesus positif, sedang orang yang dalam darahnya tidak dijumpai antigen-D, disebut rhesus negatif. Pada jaman dahulu dalam transfusi darah, asal golonganya sama, tidak dianggap ada masalah lagi. Padahal, bila terjadi ketidak cocokan rhesus, bisa terjadi pembekuan darah yang berakibat fatal, yaitu  kematian penerima darah.

Dengan kemajuan teknologi screening darah, maka sekarang ketidak cocokan rhesus dalam transfusi hampir bisa dibilang tidak ada lagi. Orang-orang dengan rhesus negatif mempunyai sejumlah kesulitan karena diseluruh dunia ini, memang orang dengan rhesus negatif relatif lebih sedikit jumlahnya. Pada orang kulit putih, rhesus negatif hanya sekitar 15%, pada orang kulit hitam sekitar 8%, dan pada orang asia bahkan hampir seluruhnya merupakan orang dengan rhesus positif.

Di Indonesia, kasus kehamilan dengan rhesus negatif ternyata cukup banyak dijumpai. Umumnya dijumpai pada orang-orang asing atau orang yang mempunyai garis keturunan asing seperti Eropa dan Arab, walaupun tidak langsung. Ada juga orang yang tidak mempunyai riwayat keturunan asing, namun jumlahnya lebih sedikit.

KEHAMILAN DENGAN RHESUS NEGATIF

Mengapa dalam kehamilan faktor rhesus sangat penting? Ada atau tidaknya antigen-D dalam darah seseorang sangat berpengaruh pada kehamilan.  Bila seorang wanita dengan rhesus negatif mengandung bayi dari pasangan yang mempunyai rhesus positif, maka ada kemungkinan sang bayi mewarisi rhesus sang ayah yang positif. Dengan demikian akan terjadi kehamilan rhesus negatif dengan bayi rhesus positif. Hal ini disebut kehamilan dengan ketidak cocokan rhesus. Efek ketidak cocokan bisa mengakibatkan kerusakan besar-besaran pada sel darah merah bayi yang disebut erytroblastosis foetalis dan hemolisis. Hemolisis ini pada jaman dahulu merupakan penyebab umum kematian janin dalam rahim, disamping hydrop fetalis, yaitu bayi yang baru lahir dengan keadaan hati yang bengkak, anemia dan paru-paru penuh cairan yang dapat mengakibatkan kematian.

Selain itu kerusakan sel darah merah bisa juga memicu kernikterus (kerusakan otak) dan jaundice (bayi kuning/hiperbilirubinimia), gagal jantung dan anemia dalam kandungan maupun setelah lahir. Karena hati bayi yang baru lahir belum cukup matang, maka ia tak dapat mengolah sel darah merah yang rusak (bilirubin) ini dengan baik untuk dikeluarkan oleh tubuhnya, sehingga terjadi hiper bilirubin/bayi kuning. Selain itu sang hati pun akan bekerja terlalu keras sehingga mengakibatkan pembengkakkan hati dan dibanjirinya paru-paru dengan cairan. Karena produk perusakan sel darah merah adalah racun bagi otak maka terjadi kernicterus (kerusakan otak). Selain itu sumsum bayi yang belum matang tak dapat mengganti sel darah merah dengan cukup cepat, maka ia akan kembali melepaskan sel darah merah yang belum matang dalam sirkulasi darah (reticulocytes dan erythroblast). Dalam kondisi ini sang ibu tetap aman karena bilirubin yang masuk dalam sirkulasi darahnya lewat plasenta akan dikeluarkan oleh sistem metabolismenya.

APA PENYEBAB KETIDAK COCOKAN RHESUS?

Ibu dan bayi mempunyai sirkulasi darah masing-masing yang terpisah. Aliran darah bertemu sangat dekat di plasenta, yang hanya dipisahkan oleh sehelai sel tipis. Hal ini memungkinkan adanya kebocoran kecil darah janin kedalam sirkulasi darah ibu, sehingga darah ibu tercampur sedikit darah janin.

Bila seorang wanita dengan rhesus negatif mengandung bayi dengan rhesus positif, hal ini berarti darah janin yang mengandung antigen-D, masuk dalam darah ibu yang tidak mengandung antigen-D. Karena perbedaan ini, tubuh ibu mengisyaratkan adanya benda asing yang masuk dalam darah. Karena itu tubuh ibu kemudian memproduksi antibodi untuk menghancurkan ‘mahluk asing’ yang beredar dalam darah tersebut. Produksi antibodi ini sama seperti produksi antibodi kebanyakan manusia bila ada zat asing dalam tubuh, seperti misalnya produksi antibodi ketika seseorang diimunisasi cacar. Sehingga sekali antibodi tercipta, maka antibodi ini akan ada seumur hidup.

Produksi antibodi ini untuk melindungi ibu agar bila zat asing itu muncul kembali, maka tubuh ibu dapat menyerang dan menghancurkanya, hal ini untuk keselamatan sang ibu sendiri. Produksi antibodi ini sangat lambat, karena itu masalah ketidak cocokan rhesus sangat jarang dijumpai pada kehamilan pertama, karena antibodi belum terbentuk kecuali pada kasus tertentu. Misalnya ibu sudah mempunyai antibodi akibat dari transfusi darah yang mengandung antigen-D sebelumnya.

Kalaupun  telah terjadi kebocoran darah janin, maka jumlah antibodi tersebut belum cukup membahayakan si janin. Paling jauh dari kebocoran pada kehamilan pertama terhadap bayi tersebut sang bayi akan menjadi kuning setelah dilahirkan. Pada kehamilan kedua dan berikutnya, bila ibu kembali mengandung bayi dengan rhesus positif, antibodi yang telah terbentuk akan mengenali darah bayi sebagai zat asing. Mereka menjalankan tugasnya dengan menyerang zat tersebut, yang mengakibatkan perusakan sel darah merah bayi.

Sel pembatas plasenta yang memisahkan sirkulasi darah ibu dan janin memiliki pori yang teramat kecil, sehingga darah tak dapat melaluinya, karena ukuran sel darah yang lebih besar. hal ini mencegah mengalirnya darah ibu ke janin, atau sebaliknya. Namun karena ukuran antibodi yang teramat kecil, antibodi dapat melewati sel pembatas ini dan memasuki sirkulasi darah bayi, dan menjalankan tugasnya.

DIAGRAM KEHAMILAN DENGAN KETIDAK COCOKKAN RHESUS:

  1. Wanita dengan rhesus negatif yang mendapat pasangan pria dengan rhesus positif kemungkinan akan mengandung bayi dengan rhesus positif.
  2. Darah janin yang mengandung rhesus positif memasuki sirkulasi darah ibu yang memiliki rhesus negatif.
  3. Darah janin yang memasuki sirkulasi darah ibu tanpa injeksi RhoGam akan memicu terciptanya antibodi dalam tubuh ibu.
  4. Antibodi menyeberang ke sirkulasi darah janin dan menghancurkan sel darah merah janin, yang mengakibatkan serangkaian penderiataan bagi janin.

PEMICU TERBENTUKNYA ANTIBODI TERHADAP ANTIGEN-D

  1. Kebocoran darah janin. Kebocoran darah janin kedalam sirkulasi darah ibu terjadi pada hampir 75% persalinan. Karena pada saat persalinan rahim yang berkontraksi akan mengganggu sel pembatas yang tipis tersebut. Selain itu terkadang pada usia kehamilan 28 minggu bisa juga terjadi kebocoran darah janin ke sirkulasi darah ibu. Selain pada persalinan, bisa juga pada kasus keguguran dan aborsi serta terminasi.
  2. Transfusi darah yang mengandung antigen-D pada penerima yang merupakan orang dengan rhesus negatif.
  3. Pada proses amniosentesis.

PENANGANGAN KEHAMILAN DENGAN RHESUS NEGATIF

Karena begitu jarangnya orang dengan rhesus negatif, maka sangat sedikit rumah sakit yang dapat menanganinya. Begitu pula dengan dokter kandungan, ternyata banyak sekali yang masih tidak mengerti masalah kehamilan dengan rhesus negatif ini. Maka itu bila Anda mengetahui rhesus darah Anda adalah negatif, segera cari informasi rumah sakit dan dokter mana yang bisa menangani kehamilan Anda.

Walaupun tidak selalu ada masalah, dokter biasanya akan tetap menangani kehamilan dengan rhesus negatif secara khusus. Seorang wanita dengan rhesus negatif pada pemeriksaan kehamilan pertama akan diperiksa darahnya untuk memastikan jenis rhesus darah dan melihat apakah telah tercipta antibodi. Bila belum tercipta antibodi, maka pada usia kehamilan 28 minggu dan dalam 72 jam setelah persalinan akan diberikan injeksi anti-D (Rho) immunoglobulin, atau biasa juga disebut RhoGam. Bila kehamilan tanpa injeksi mempunyai peluang untuk selamat hanya 5%, Injeksi ini akan mengurangi resiko hingga 1%. Bahkan bila digunakan dengan tepat, bisa mengurangi resiko hingga 0.07% (yang berarti peluang selamat meningkat hingga 99.93%).  Pada kasus keguguran, aborsi dan terminasi pun injeksi ini perlu diberikan.

RhoGam ini akan menghancurkan sel darah merah janin yang beredar dalam darah ibu, sebelum sel darah merah itu memicu pembentukan antibodi yang dapat menyeberang ke dalam sirkulasi darah janin. Dengan demikian sang janin akan terlindung dari serangan antibodi.  Tidak seperti antibodi yang akan bertahan seumur hidup, RhoGam akan habis dalam beberapa minggu, karena itu, ia cukup aman bagi janin. Pada kehamilan-kehamilan berikutnya, dokter akan terus memantau apakan telah terjadi kebocoran darah janin ke dalam sirkulasi darah ibu, untuk menghindari telah terbentuknya antibodi. Dan injeksi RhoGam terus diulang pada setiap kehamilan.

Rhesus Anti-D-immunoglobulin tersedia dalam ampul 2ml yang mengandung 1000 unit. Untuk kehamilan 8-12 minggu 375 unit sudah cukup, tapi untuk kehamilan lebih lanjut, harus diberikan 1000 unit. Karena langkanya kehamilan dengan rhesus negatif, maka hanya apotik tertentu saja yang menyediakan rhoGam ini, biasanya harus dipesan terlebih dahulu minimal 5-7 hari sebelum dibeli.

Injeksi ini tidak lagi diperlukan dalam kasus berikut:

  1. Kehamilan muda dibawah 7 minggu, kecuali dalam kondisi tertentu.
  2. Janin juga memiliki rhesus negatif, hal ini dipastikan bila ayah janin juga memiliki rhesus negatif.
  3. Tubuh ibu telah memproduksi antibodi.
  4. Ibu pasti tidak akan hamil atau melahirkan lagi.

PENANGANAN BAYI PADA IBU YANG TELAH MEMPUNYAI ANTIBODI

Bila ibu menunjukkan kadar antibodi yang sangat tinggi dalam darahnya, maka akan dilakukan penanganan khusus terhadap janin yang dikandung, yaitu dengan monitoring secara reguler dengan scanner ultrasonografi. Dokter akan memantau masalah pada pernafasan dan peredaran darah, cairan paru-paru, atau pembesaran hati, yang merupakan gejala-gejala penderitaan bayi akibat rendahnya sel darah merah. Tindakan lain yang biasanya diambil ialah dengan melakukan pengecekan amniosentesis secara berkala untuk mengecek level anemia dalam darah bayi.

Pada kasus tertentu, kadang diputuskan untuk melakukan persalinan lebih dini, sejauh usia janin sudah cukup kuat untuk dibesarkan diluar rahim. Tindakan ini akan segera diikuti dengan penggantian darah janin dari donor yang tepat.  Induksi persalinan juga akan dilakukan pada ibu yang belum mempunyai antibodi bila kehamilannya telah lewat dari waktu persalinan yang diperkirakan sebelumnya, untuk mencegah kebocoran yang tak terduga.

Pada kasus yang lebih gawat, dan janin belum cukup kuat untuk dibesarkan diluar, akan dilakukan transfusi darah terhadap janin yang masih dalam kandungan. Biasanya bila usia kandungan belum mencapai 30 minggu. Proses transfusi ini akan diawasi secara ketat dengan scanner ultrasonografi dan bisa diulang beberapa kali hingga janin mencapai ukuran dan usia yang cukup kuat untuk diinduksi.

Setelah bayi lahir, ia akan mendapat beberapa pemerikasaan darah secara teratur untuk memantau kadar bilirubin dalam darahnya. Bila diperlukan akan dilakukan phototerapi. Bila kadar bilirubin benar-benar berbahaya akan dilakukan penggantian darah dengan transfusi. Kadar cairan dalam paru-paru dan jantungnya juga akan diawasi dengan ketat, demikian juga dengan kemungkinan anemia.

BEBERAPA ISTILAH DALAM ARTIKEL

  1. Amniosentesis: pengambilan cairan disekitar janin dalam rahim untuk memeriksa keadaan janin.
  2. Antibodi: molekul protein berbentuk Y yang dibentuk tulang sum-sum dan dibawa oleh darah yang merupakan pertahanan tubuh yang utama. Yang dapat mengenali dan bahkan menghancurkan zat asing seperti bakteri dan virus.
  3. Antigen: substansi protein yang menstimulasi produksi antibodi.
  4. Athetoid celebral palsy : kerusakan sistem syaraf  yang muncul sebelum usia 3 tahun karena kerusakan otak dalam jangka waktu yang lama.
  5. Bilirubin: Sisa sel darah merah yang rusak.
  6. Erythroblast :  pelepasan sel darah merah yang belum matang ke dalam sirkulasi darah karena ketidak mampuan tulang sum-sum memproduksi pengganti sel-sel darah merah yang rusak, karena kerusakan sel darah merah dalam jumlah besar dalam sirkulasi darah karena sebab tertentu.
  7. Erytroblastosis foetalis: erytroblastosis yang terjadi pada janin (bayi yang belum dilahirkan) yang umumnya terjadi karena serangan antibodi dari tubuh sang ibu yang memasuki sirkulasi darah janin karena ketidak cocokan rhesus.
  8. Hemolisis: Kerusakan sel darah merah.
  9. Hiperbilirubinemia: Kelebihan bilirubin dalam darah bayi.
  10. Hydrop fetalis: bayi yang baru lahir dengan keadaan hati yang bengkak, anemia dan paru-paru penuh cairan.
  11. Jaundice: Bayi kuning
  12. Kernicterus: kerusakan otak yang bisa mengakibatkan athetoid celebral palsy, kehilangan pendengaran dan masalah pada gigi.
  13. Phototerapi: Pencahayaan khusus untuk mengurai bilirubin menjadi cairan yang dapat dikeluarkan oleh tubuh.
  14. Reticulocytes: Jumlah sel darah merah yang belum matang terlalu banyak ditemui dalam sirkulasi darah.
  15. Terminasi: Pengakhiran kehamilan karena berbagai pertimbangan medis, karena bayi yang tidak mungkin selamat atau kehamilan yang membahayakan ibunya.

SUMBER-SUMBER

Abortion, A Practical Guide for Doctors, The Rhesus Antagonism, bab14 hal. 48, dalam situs www.isad.org 31 Maret 2003
Glosary of Terms, dalam situs www.paternityangel.com, 3 maret 2003
Kernicterus, dalam situs www.cdc.gov, 31 Maret 2003
Medical Dictionary,  dalam situs www.Cancerweb.ncl.ac.uk, 5 Mei 2003
Rhesus Disease, dalam situs www.iafrica.com 31 Maret 2003
Rhesus Disease, dalam situs www.paternityangel.com 31 Maret 2003
Rhesus Factor Problem,  dalam situs www.babyworld.com, 31 maret 2003
Rhesus Incompability, dalam situs www.monaghanhospital.com,  31 Maret 2003

SUMBER GAMBAR

Rhesus-Negative Blood and pregnancy, dalam situs http://www.staywell.com/,  31 Maret 2003

Dipublikasi di Serba-Serbi Rhesus | Tinggalkan komentar

Mengenal Kanker Serviks

KANKER SERVIKS – materi diskusi Blackberry Group Rhesus Negatif Indonesia (RNI) siang – 29 sept 2011
Pemberi materi : dr. Natalina

Faktor2 penyebab kanker pada organ wanita itu banyak.
Faktor penyebab kanker rahim dan mulut rahim:
1. Anak > 4
2. Hamil < 20 thn atau > 35 thn
3. Gonta ganti pasangan (dicontohkan PSK)
4. Beberapa penyakit infeksi kelamin Ɣªήğ ƭίϑαƙ diobati

Faktor penyebab kanker di negara maju:
1. Rokok (nikotin)
2. Cairan pembersih vagina
3. Terlalu bersih membersihkan vagina
4. Kuret berulang

Nah sekarang bertmbah lagi… Pemakaian kontrasepsi hormonal > 4 thn juga menjadi pemicu kanker

(Pertanyaan:kanker rahim itu muncul krn kuretnya ga bersih ya?)

Efek samping kuret:

Kram di daerah perut bagian bawah seperti mau menstruasi . Biasanya hanya berlangsung 30 menit – 1 jam, tetapi ada juga yang mengalaminya selama berhari-hari. Perdarahan ringan atau spotting beberapa hari hingga minggu setelah kuret dilakukan. Menstruasi yang terlalu awal atau malah terlambat.

KOMPLIKASI:

Perdarahan hebat
Infeksi ⇉ resiko kanker
Perforasi uterus (robeknya rahim)
Sindroma asherman. Hal ini terjadi bila pengerukan atau pengikisan dinding rahim terlalu agresif dan dalam akibatnya terbentuk jaringan ikat pada dinding rahim. Akibat sindroma asherman ini anda bisa mandul dan tidak mengalami menstruasi karena dinding rahim tidak normal.

So friend, Bila tindakan kuret dilakukan berulang2 maka bagi sebagian wanita yang memiliki kecenderungan atau membawa gen kanker di tubuhnya akan mudah menjadi kanker

Infeksi yang bisa mengarah menjadi kanker adalah infeksi yang disebabkan oleh HPV (Human Papiloma Virus). Virus ini sekarang tersebar bebas dimana2, salah satunya di toilet umum…

Pesan :

1. Bawa selalu tissue dlm tas, bersihkan organ kewanitaan kita dgn tissue setelah dari WC umum
2. Waspada dgn produk2 pembersih organ wanita, terlalu bersih tdk baik
3. Hindari pemakaian alkon hormonal (pil dan suntik) > 4 thn

Sekarang udah ada pencegahannya memang dgn vaksin HPV, disuntikkan 3x. Tapi sebelumnya papsmear dulu. Disarankan usia di atas 35 kita lakukan papsmear. Klo negatif langsung aja suntik. 3x suntik perlindungan 5 thn.
Hati2 juga kaum wanita nih. Sekarang ada juga bedak vagina. Itu sama juga berbahaya dan bisa menjadi faktor resiko terjadi kanker. Dan rata2 para wanita ini berupaya mencoba ini itu, pengharum vagina, bedak, parfum vagina, sabun cuci, dan lain-lain demi menyenangkan suami.

-Salam Hangat-

Dipublikasi di Umum | 7 Komentar

Mengenal Thalasemia

Ketika Salwa Tak Cuci Darah

Salwa Wijaya (3 tahun) tak seperti bocah seusianya yang tengah lucu-lucunya. Tubuh sulung 2 bersaudara itu kurus kering. Suhu tinggi kerap menghampirinya. Pertumbuhannya juga lambat. Ia baru dapat berjalan ketika usianya 2,5 tahun. Pada tahap itu Siti Maryati tak curiga bahwa anaknya mengidap talasemia. Ia hanya menduga, anaknya kurus kering lantaran enggan makan.

Ketika benjolan seukuran buah kedondong muncul di pinggang kiri perempuan itu, Siti bergegas ke dokter. Hasil diagnosis dokter, Salwa kelelahan. Siti tak puas hati atas diagnosis itu sehingga mendatangi dokter kedua. Ahli medis itu menyarankan agar Salwa menjalani tes darah. Ketika itu kulit Salwa pucat, perut membuncit, dan urine lebih gelap. Misteri itu terpecahkan di Rumahsakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Bocah kelahiran 5 Februari 1997 itu positif talasemia.

Benjolan di pinggang itu ternyata limpa yang membengkak. Organ itu membesar lantaran tak dapat menjalankan fungsinya membersihkan darah. Dokter mengatakan belum ada penawar alias obat talasemia. ‘Hanya transfusi darah penyambung hidupnya,’ kata Tarkiman mengulangi pernyataan dokter. Dua minggu sekali, Salwa harus menjalani transfusi sebanyak 2-3 kantong darah.

(Sumber trubus online: Kamis, Nopember 01, 2007)

Ini hasil riset yang mencengangkan : 20 juta penduduk Indonesia membawa gen penyakit thalasemia. Mereka berpeluang mewariskan penyakit kelainan darah itu kepada keturunannya.
Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia Ruswandi, menuturkan, saat ini Provinsi Jawa barat masih menjadi provinsi dengan jumlah penderita Thalasemia terbesar di Indonesia. Sekitar 5.500 penderita Thalasemia terdaftar di Yayasan Thalasemia Indonesia (YTI). Dari jumlah itu, 1.300 di antaranya tinggal di Jakarta. Untuk Indonesia, diperkirakan terdapat 3.000 penderita baru setiap tahun diluar yang belum terdata atau kesulitan mengakses layanan kesehatan.

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu makan hilang, dan infeksi berulang.
Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya. Hemoglobin merupakan protein kaya zat besi yang berada di dalam sel darah merah dan berfungsi sangat penting untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkannya sebagai energi. Apabila produksi hemoglobin berkurang atau tidak ada, maka pasokan energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi tubuh tidak dapat terpenuhi, sehingga fungsi tubuh pun terganggu dan tidak mampu lagi menjalankan aktivitasnya secara normal.Thalasemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari keempat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin.

2 jenis thalasemia :

1. Thalasemia Minor, si individu hanya membawa gen penyakit thalasemia, namun individu hidup normal, tanda-tanda penyakit thalasemia tidak muncul.

2. Thalasemia Mayor, karena sifat sifat gen dominan. Thalasemia mayor merupakan penyakit yang ditandai dengan kurangnya kadar hemoglobin dalam darah.
Satu-satunya perawatan yang bisa dilakukan untuk penderita thalasemia mayor adalah dengan transfusi darah secara teratur seumur hidup

Mereka membutuhkan tetes demi tetes darah kita untuk bertahan hidup …

Salam hangat;

28 September 2011

-Natalia-

Dipublikasi di Umum | Tinggalkan komentar

Sharing Pengalaman Sesama Rhesus

“Jika kamu masih takut atau ragu untuk mendonorkan darahmu, pikirkanlah mereka yg terbaring sakit dan membutuhkan tetes demi tetes darahmu”

“Jika kamu tetap masih takut atau ragu, pikirkanlah jika kamu menjadi mereka yg tengah sakit dan menanti tetes demi tetes darah dari pendonor”

Hari Sabtu kemarin, saya hadir dalam Silaturahmi yang diadakan oleh group ini, kami saling sharing, terutama, bagaimana pengalaman kami sebagai pemilik darah langka.

Berbagai cerita berharga mengalir keluar dari mulut kami.

Salah satu teman yg “terpaksa” dimintai untuk apheresis (donor trombosit saja),jika donor biasa hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja, apheresis memakan waktu hampir 2 jam, hanya gara2 minimnya pemilik darah rhesus negatif sedangkan permintaan saat itu tinggi.

Salah seorang Ibu juga bercerita, bagaimana dia berjuang untuk mendapatkan anak ke-2 dari rahimnya, namun tak pernah berhasil hingga akhirnya setelah upaya kehamilan ke-4 nya gagal, ibu ini harus kehilangan rahimnya. Perlu diketahui, seorang wanita dgn darah rhesus negatif memerlukan perhatian khusus terutama saat kehamilan anak pertama, yaitu perlu disuntikkannya RhoGAM.

Salah satu teman pun bercerita, bagaimana ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika seorang pasien meregang nyawa karena habisnya stok darah rhesus negatif sedangkan pasien tersebut butuh transfusi seminggu sekali untuk mengatasi kanker lambungnya yang sudah stadium 4.

Ada lagi cerita, bagaimana seorang teman akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota -sebut saja- “A”, meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mendonorkan darahnya bagi seorang anak yang akan menjalani operasi hati karena stok darah rhesus negatif kebetulan tidak tersedia di kota tersebut.

Atau cerita lainnya juga, bagaimana seorang anak usia 4 tahun dgn kelainan jantung terpaksa membatalkan 4x schedule operasi hanya gara2 stok darah rhesus negatif yg dibutuhkannya belum memenuhi standar kebutuhan saat operasi.

Itu adalah beberapa sharing pengalaman dari teman2 komunitas group ini yang mungkin bisa dijadikan motivasi bagi sahabat2 untuk saling berbagi dan senantiasa mempererat silaturahmi di antara kita.

Mudah2an dalam acara silaturahmi berikutnya, bisa lebih banyak lagi sahabat2 yang bergabung, sehingga bisa semakin mempererat persaudaraan di antara kita, tak hanya bersua dalam dunia maya saja, tetapi secara fisik pun kita dapat saling mengenal lebih jauh lagi satu dengan yang lainnya.

Terimakasih kepada admin group ini yg telah menyelenggarakan acara silaturahmi tersebut. Semoga acara ini dapat diagendakan secara rutin untuk mempererat silaturahmi diantara kita yang -notabene- sebagai kaum minoritas untuk urusan darah…

Salam hangat;

25 September 2011

-Natalia-

Dipublikasi di Serba-Serbi Rhesus | Tinggalkan komentar

Rhesus Negatif

Golongan darah biasanya identik dengan sistem ABO. Jarang kita mendengar golongan darah rhesus positif atau negatif. Padahal keduanya sama-sama penting dan mesti diketahui. Jika tidak, urusan beda rhesus bisa merepotkan. “Dulu saya tidak tahu apa itu rhesus. Kok kayak nama pelawak (alm. Lesus) aja,” canda Agus, seorang pemilik golongan darah rhesus negatif. Di KTP-nya cuma tertulis bahwa golongan darahnya B. Itu saja. Tak ada embel-embel rhesus positif atau negatif. Ia baru sadar betapa pentingnya urusan rhesus ketika dia terbaring di rumah sakit dan membutuhkan tranfusi darah. Dari pemeriksaan hematologi, diketahui rhesus darahnya negatif. Sejak itulah ia tahu betapa repotnya menjadi pemilik darah rhesus negatif. Rupanya mencari stok darah golongan B rhesus negatif tak segampang yang ia bayangkan. Rumah sakit tempat ia dirawat mencari stok darah ke Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta. Malang tak dapat ditolak, saat itu PMI sedang kehabisan stok darah rhesus negatif. Keluarganya kemudian berusaha mencari donor dengan cara berkirim pesan lewat ponsel dan e-mail ke kawan-kawan dekat. Oleh kawan-kawan mereka, pesan dan e-mail itu kemudian diteruskan dan menjalar ke mana-mana. Bukan hanya kepada kawan langsung, tapi juga sampai ke kawan dari teman mereka. Mujur tak dapat diraih, cara ini pun ternyata belum jitu. Untung saja, setelah melewati penantian beberapa hari, ia akhirnya mendapatkan donor lewat bantuan PMI DKI Jakarta.

Dianggap musuh

Seperti kita tahu, pada sistem ABO, golongan darah terbagi menjadi empat macam: A, B, AB, dan O. Pada sistem rhesus, golongan darah terbagi menjadi dua: rhesus positif dan negatif. Dua sistem penggolongan ini berbeda satu sama lain. Tapi di dalam urusan donor darah, keduanya saling melengkapi. Jika dua sistem ini digabungkan, maka secara keseluruhan terdapat delapan macam golongan darah: A(+), A(-), B(+), B(-), AB(+), AB(-), O(+), dan O(-).

Rhesus sendiri adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Sistem penggolongan berdasarkan rhesus ini ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener tahun 1940. Disebut “rhesus” karena saat itu Landsteiner-Wiener melakukan riset dengan menggunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang banyak dijumpai di India dan Cina. Mereka yang mempunyai faktor protein ini disebut berhesus positif. Sedangkan yang tidak memiliknya disebut berhesus negatif. Mirip seperti pada sistem ABO, di dalam sistem rhesus juga terdapat aturan khusus dalam urusan sumbang-terima darah. Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditranfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis golongan darah ini bertemu, dipastikan akan terjadi perang di antara keduanya. Sistem pertahanan tubuh si reseptor (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai “benda asing” yang perlu dilawan seperti virus atau bakteri. Sebagai bentuk perlawanan, tubuh reseptor akan memproduksi antirhesus. Saat transfusi pertama, kadar antirhesus masih belum cukup tinggi sehingga relatif tak menimbulkan masalah serius. “Tapi pada tranfusi kedua, akibatnya bisa fatal,” terang dr. Yuyun SM Soedarmono, MSc, Direktur Unit Tranfusi Darah Pusat PMI. Saat tranfusi kedua, antirhesus mencapai kadar yang cukup tinggi. Antirhesus ini akan menyerang dan memecah sel-sel darah merah dari donor. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan tranfusi darah tak tercapai, tapi juga malah memperparah kondisi si reseptor sendiri. Ginjalnya harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel darah merah itu. Itu sebabnya, pemilik rhesus negatif tidak boleh menerima donor darah rhesus positif sekalipun berdasarkan sistem ABO golongannya sama. Aturan ini tetap berlaku meskipun pendonor adalah keluarga dekat atau bahkan darah dagingnya sendiri. Tapi aturan ini hanya berlaku satu arah. Pemilik rhesus positif bisa menerima donor, baik dari sesama rhesus positif, maupun dari rhesus negatif. Hal ini karena darah rhesus negatif tidak mengandung “benda asing” yang bisa disangka sebagai musuh yang dapat memacu timbulnya antirhesus.

Manusia langka

Di seluruh dunia, pemilik rhesus negatif merupakan golongan minoritas. Menurut catatan American Association of Blood Bank, sebagian besar orang di dunia memiliki rhesus di dalam darahnya. Hanya sebagian kecil yang tidak. Persentase jumlah pemilik rhesus negatif berbeda-beda antarkelompok ras. Pada ras bule (seperti warga Eropa, Amerika, dan Australia), jumlah pemilik rhesus negatif sekitar 15 – 18%. Sedangkan pada ras Asia, persentase pemilik rhesus negatif jauh lebih kecil. “Di Indonesia, pemilik rhesus negatif hanya sekitar setengah persen,” kata Yuyun. Dengan kata lain, dari seribu orang, hanya sekitar lima orang berhesus negatif.

Meski begitu, rhesus negatif bukan sebuah kelainan atau penyakit bawaan. Sama seperti tangan kidal. Perbedaan ini semata-mata masalah genetik, bukan salah Bunda mengandung. Karena persentasenya sangat kecil, jumlah pendonor pun amat langka. Lebih-lebih golongan AB rhesus negatif. Ini merupakan golongan darah paling langka. Di bank darah PMI, stok darah rhesus negatif biasanya hanya satu kantung untuk masing-masing golongan darah ABO. Selain karena jumlah pendonor langka, permintaannya pun memang sangat jarang. Untuk menyiasati jika ada kebutuhan sewaktu-waktu, PMI menerapakan sistem donor panggilan. Sebagai bank data, PMI mencatat identitas lengkap orang-orang yang diketahui berhesus negatif. Jika ada permintaan darah rhesus negatif, PMI akan menghubungi mereka agar mendonorkan darahnya. Mungkin karena dipersatukan oleh nasib sebagai sesama warga minoritas, mereka biasanya tak sulit dimintai bantuan. Jika si pendonor tidak bisa datang ke PMI karena kesibukan kerja umpamanya, maka pihak PMI akan mendatangi kantornya. Tak bisa siang, malam pun jadi. Solidaritas mereka betul-betul layak dicontoh. Meski begitu, saat-saat tertentu PMI kadang tetap tidak bisa memenuhi permintaan darah rhesus negatif. Yuyun memberi contoh, PMI DKI Jakarta kadang harus minta bantuan PMI daerah lain misalnya Bali karena di sini banyak terdapat warga asing. Jika cara ini pun tidak berhasil, PMI Pusat kadang sampai harus minta bantuan ke palang merah negara lain misalnya Singapura, Australia atau Belanda. Walhasil, solidaritas kaum rhesus negatif tak hanya dalam satu kota atau antarkota, tapi juga lintas negara. Bank data pemilik rhesus negatif ini biasanya tercatat di PMI tingkat daerah (provinsi) atau PMI tingkat cabang (kabupaten atau kota). Tentu saja tidak semua pemilik rhesus negatif tercatat di bank data PMI. Yang tercatat hanya mereka yang kebetulan telah menjalani pemeriksaan rhesus. Para mahluk langka ini biasanya ditemukan ketika mengikuti acara donor darah.

Kita bisa menjadi donor

Untuk memeriksa golongan rhesus, kita tak harus datang ke PMI. Pemeriksaan ini masuk kategori dasar pemeriksaan hematologi dan bisa dilakukan oleh laboratorium-laboratorium klinik macam Prodia, Pramita, Bio Medika, Kimia Farma, dan sejenisnya. Di Indonesia, selama ini penggolongan darah di KTP hanya berdasarkan sistem ABO. Ini berbeda dengan negara-negara ras bule yang persentase warga berhesus negatif cukup tinggi. Biasanya para warganya dibekali kartu pengenal yang mencantumkan golongan darah berdasarkan sistem ABO dan rhesus. Kartu pengenal ini selalu mereka bawa, termasuk ketika harus tinggal di negara langka rhesus negatif seperti Indonesia. Tak cuma punya kartu, mereka pun umumnya punya kesadaran terhadap urusan yang mungkin kita anggap sepele ini. Menurut Yuyun, banyak di antara mereka yang atas kehendak sendiri mendaftarkan diri ke PMI untuk menjadi pendonor.

Untuk urusan kesadaran ini, kita memang layak belajar dari mereka. Dengan alasan ini pula, Yuyun menyarankan agar lebih banyak lagi orang yang mendaftarkan diri sebagai penyumbang darah. “Kalau mau menjadi donor, datang aja langsung ke kantor PMI,” katanya. Jika kebetulan berrhesus positif, kita bisa menjadi pendonor sukarela yang menyumbangkan darah secara berkala. Jika kebetulan kita tergolong manusia langka yang berhesus negatif, kita bisa mendaftar di bank data PMI sebagai anggota komunitas rhesus negatif yang sewaktu-waktu siap diminta menjadi donor panggilan. Selain bisa berbagi dengan orang lain, menjadi donor berarti menyelamatkan diri sendiri. Memang tak ada orang yang berharap jatuh sakit, tapi siapa tahu ternyata suatu saat kita sendiri yang membutuhkan.

Bisa Sebabkan Keguguran

Urusan rhesus tak hanya penting saat proses tranfusi darah. Faktor ini juga perlu diketahui oleh para ibu hamil. Terutama jika ia berhesus negatif sementara suaminya berhesus positif. Masalah ini biasanya terjadi pada perkawinan atarbangsa. Secara genetik, rhesus positif dominan terhadap rhesus negatif. Anak dari pasangan beda rhesus punya kemungkinan 50 – 100% berhesus positif. Kemungkinan berhesus negatif hanya 0 – 50%. Artinya, rhesus si anak lebih mungkin berbeda dengan si ibu. Jika tidak ditangani dengan tepat, perbedaan rhesus antara bayi dengan ibu ini bakal menimbulkan masalah. Lewat plasenta, rhesus darah bayi akan masuk ke peredaran darah si ibu. Selanjutnya ini akan menyebabkan tubuh si ibu memproduksi antirhesus. Lewat plasenta juga, antirhesus ini akan melakukan serangan balik ke dalam peredaran darah si bayi. Sel-sel darah merah si bayi akan dihancurkan. Pada kehamilan pertama, antirhesus mungkin hanya akan menyebabkan si bayi lahir kuning (karena proses pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan warna kuning pada kulit). Tapi pada kehamilan kedua, problemnya bisa menjadi fatal jika anak kedua juga memiliki rhesus positif. Saat itu, kadar antirhesus ibu sedemikian tinggi sehingga daya rusaknya terhadap sel darah merah bayi juga hebat. Ini bisa menyebabkan janin mengalami keguguran. Jika sebelum hamil si ibu sudah mengetahui rhesus darahnya, masalah keguguran ini bisa dihindari. Sesudah melahirkan anak pertama, dan selama kehamilan berikutnya, dokter akan memberikan obat khusus untuk menetralkan antirhesus darah si ibu. Dengan terapi ini, anak kedua tetap bisa diselamatkan.

Dipublikasi di Serba-Serbi Rhesus | 1 Komentar